Aku Gak Pernah Melihat Hantu (Secara Sadar).
Hantu/Setan yang aku definisikan di sini adalah makhluk yang normalnya tak kasat mata dan biasa aku bayangkan berwujud "menyeramkan" yang sebenarnya aku tidak paham (belum jelas).
Sebenarnya pengetahuan aku tentang hantu tidak banyak, jadi tulisan ini dibuat berdasarkan kira-kira kemungkinan yang mungkin terjadi.
Saat kita takut dan panik biasanya (Gejala panik -->) pikiran kita tidak terkontrol dan membayangkan sesuatu yang "mengerikan" atau "menyeramkan" atau dalam istilah jaman sekarang sering disebut "overthinking" sehingga detak jantung pun berdetak lebih cepat dari biasanya.
Jika aku amati gejala di atas, hal ini memiliki kesamaan dengan saat kita mengalami panic attack dalam kasus yang lebih luas. Untuk itu, aku mencoba mencari solusi dengan meneliti gejala di atas agar rasa takut lebih terkontrol, di sini aku tidak mengatakan bahwa takut itu buruk, tetapi saat kita panik sangat sulit untuk kita berpikir secara jernih.
Menguraikan proses yang terjadi :
1. Suatu kondisi atau kejadian terjadi
2. Otak mulai membayangkan berbagai kemungkinan
3. Terpikirkan kemungkinan terburuk yang berlebihan dan terkesan tak masuk di akal.
(Muncul Rasa Takut)
(Jika Panik)
4. Pikiran tidak terkontrol dan kemungkinan buruk mulai menyerbu
5. Kita bisa pingsan, terpeleset, tersandung, kejeduk, dll.
Nah, di sini aku mau menceritakan jika kasusnya karena takut hantu.
"Pada hari itu aku ditugaskan oleh mbah untuk menjaga rumahnya karena mbah dan tanteku akan pergi keluar kota ke tempat suami tanteku. Di rumah hanya aku sendiri dengan ternak peliharaan mbah di belakang rumah.
Aku sangat takut dengan yang namanya hantu karena bapakku sering bercerita dengan temannya mengenai kejadian-kejadian menyeramkan di kampung.
Saat malam hari, aku mengawasi di teras rumah dengan tikar yang tergelar dan akan berkeliling untuk memeriksa sekitar, tapi karena pikiran yang tidak karuan dan rasa takut yang terus menjalar ke seluruh tubuh, rasanya tubuh ini seperti membatu, bahkan kutempelkan punggungku ke dinding berharap agar tidak ada yang menyentuhku dari belakang sambil memeluk lutut erat-erat.
Tiba-tiba ada suara "Tok" (Bjir, gw nulis ini malem-malem dan suasananya juga lagi sepi dan tiba-tiba muncul notif "Shopee" gw kaget bjir :v), seperti suara potongan bambu yang terjatuh membentur lantai tanah dari belakang rumah. Aku langsung panas dingin memejamkan mata sambil memeluk lutut lebih erat. Tetapi, dalam ketakutan tersebut terlintas ingatan kejadian yang menimpa warga kampung sebelah yang baru saja kemalingan ternaknya, dan saat itu juga mataku langsung terbuka lebar, "kalau itu maling bisa bahaya nih" batinku, aku bersiap mengambil tongkat pentungan yang sudah kupersiapkan di sebelahku dan mencari batu di bawah pohon salam depan rumah, sempat terasa ada yang menatap dari atas pohon namun langsung aku buang jauh - jauh perasaan tersebut dan fokus pada maling yang berusaha mengincar rumah mbahku. Dengan jalan mengendap-endap, aku memastikan keadaan di belakang rumah sambil memegang batu dan tongkat dengan erat, dan syukurlah ternyata tidak ada apa-apa, dan aku pun melanjutkan penjagaan malam itu dengan pola pikir baru yaitu menjaga rumah dari maling (Namun, saatku menuliskan cerita ini, aku jadi berpikir apakah itu angin/tikus/ atau jangan-jangan hhaaaaaa hahaah jadi panik sendiri wkwkwk)"
Dalam kasus lain yang biasanya dijadikan modus penipuan adalah mengabari orang tua bahwa anak mereka mengalami kecelakaan dan harus segera melalukan operasi, namun operasi hanya dapat dilakukan setelah uangnya di transfer. Untuk orang yang panik, kemungkinan akan langsung mentransfer sesuai perintah penipu, namun bagi mereka yang waspada, maka mereka akan menelepon anaknya atau orang yang kemungkinan berada dekat anaknya untuk memastikan kondisi yang sebenarnya.
Kesimpulannya, saat kita merasa takut, coba untuk tidak terlalu fokus pada kemungkinan yang berlebihan dan membuat pikiran tidak terkontrol karena hal yang tidak dipahami, cobalah untuk tenangkan diri (menurunkan ritme jantung yang berdetak terlalu cepat) saat mulai merasa takut dengan menarik napas dalam dan memikirkan kemungkinan lain yang lebih masuk akal untuk diatasi. Jika kita melihat uraian urutan di atas, sebaiknya kita segera mengontrol napas kita saat berada di fase ke 3.
Jika ada pengalaman lain atau merasa tidak setuju dengan tulisanku di atas, mari kita diskusikan di kolom komentar dan jika dirasa tulisan ini bermanfaat, kalian bisa bagikan/share tulisan ini ke teman, saudara, atau orang yang kalian rasa memiliki masalah dalam mengontrol rasa panik.
Terima kasih ^ ^, salam hangat Penulis.
(Tema web ini menggunakan template dari Foliodan belum saya sesuaikan, mohon dimaklum)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar